Kamis, 09 Juli 2015

Luas Mina Menurut Syariah Hanya Tampung 1,4 juta Orang Jemaah

admin_kuh
By admin_kuh January 14, 2015 22:37
Luas Mina Menurut Syariah Hanya Tampung 1,4 juta Orang Jemaah

Jeddah (14/01/2015) : Dalam pembahasan perbaikan pelayanan haji antara Menteri Agama RI Drs.Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Haji Saudi Arabia Dr.Bandar al-Hajjar, Menteri Haji Bandar menjelaskan bahwa luas batasan Mina menurut Syariah yang telah ditentukan oleh Rasulullah SAW hanya mampu menampung 1,4 juta orang jemaah saja. “Jadi ini menurut syariah bahwa batas Mina tidak dapat menampung lebih dari 1,4 juta jiwa saja,” ucap Bandar.
Luas kawasan Mina bila dibagi dengan 1,4 juta jemaah, setiap orang akan mendapatkan luas 1,6 cm. Artinya luas per orang ini akan semakin sempit bila ditambah kuota jemaah yang datang untuk berhaji. Setiap kali ada penambahan jumlah jemaah haji akan semakin sempit luasan kawasan Mina yang hanya akan mengakibatkan semakin besarnya gelombang pengaduan. “Jadi kondisi ini akan membuat jemaah semakin banyak mengeluh karena luas wilayah Mina yang semakin sempit,” jelas Bandar.
Maknanya, jika jemaah haji bertambah luas area yang dimiliki per jemaah bisa jadi hanya 1 m2 dan ini sungguh sulit, bahkan bisa kurang dari itu.
Luas yang ada sekarang adalah luas yang ditentukan oleh Rasulullah SAW yang tidak bisa kita langgar. Jika jemaah haji ditempatkan di luar kawasan yang telah ditentukan mereka akan protes dan menolak. “Bila kita terpaksa menempatkan mereka di luar batasan yang sudah ditentukan Rasulullah, mereka akan menolak,” tegas al-Hajjar.
Oleh karena kondisi-kondisi yang ada yang sulit dipenuhi guna memberikan kemudahan dan kenyamanan lebih kepada jemaah haji, menurut al-Hajjar kewajiban haji hanya sekali sepanjung umur. “Inilah salah satu alasan mengapa kewajiban haji itu hanya sekali seumur hidup,” lanjutnya.
Dengan alasan ini, menurut Bandar sulit bagi Kerajaan Arab Saudi untuk memenuhi permintaan penambahan kuota jemaah haji dari yang sudah ada. Kendati pihak Kerajaan Arab Saudi terus berusaha memperluas, membangun fasilitas yang memberi kemudahan, dan memperbaiki pelayanan. “Inilah beberapa hal yang membuat permintaanpenambahan jumlah kuota sulit dipenuhi,” pungkasnya (adb/kuh).

Pohon Soekarno Rimbunkan Padang Arafah


Mekkah (MCH)—Padang Arafah yang setiap musim haji menjadi lokasi berkumpulnya dua hingga tiga juta jamaah haji dunia saat melaksanakan wukuf, dikenal memiliki suhu udara yang sangat panas.
Dengan suhu sekitar 38-42 derajat celcius saat musim panas, tak pelak jamaah yang sedang wukuf di situ akan merasa kepanasan yang menyengat sehingga tidak sedikit yang cepat keletihan saat berada di situ.
Padang tersebut memang sangat gersang dan nyaris hanya sedikit terdapat bangunan karena memang sehari-hari di luar musim haji, nyaris tidak ada manusia yang singgah ke situ.
Tapi dibeberapa lokasi Padang Arafah yang memiliki total luas 5,5×3,5 kilometer persegi itu, terdapat rimbunan pohon yang seringkali dijadikan tempat berteduh bagi warga yang ada di situ.
Sejumlah masyarakat yang sudah seringkali datang ke Arafah sebagai petugas haji Indonesia mengatakan bahwa pohon-pohon yang merindangkan beberapa lokasi Arafah dinamakan “Pohon Soekarno” karena memang pohon itu yang mengusulkan agar ditanam di situ adalah Presiden pertama Indonesia.
Pohon sejenis pohon mindi ini memang dibawa oleh Soekarno saat melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci.
Sebagai orang berpengaruh di kawasan negara-negara nonblok Bung Karno dengan mudah menawarkan ide penanaman pohon ini kepada kalangan masyarakat SArab yang dikenal keras dan teguh dalam berpendirian.
Tak cukup mengirimkan ribuan bibit pohon, Bung Karno juga mengirimkan ahli tanaman dari Indonesia untuk mengembangbiakan tanaman yang memang cocok tumbuh di daerah tandus ini.
Kini tanaman ini tumbuh dengan rimbun di berbagai sudut kota Arab Saudi, baik di Mekah, Madinah, maupun Jedah.
Khusus di kawasan Padang Arafah, pohon Soekarno ini telah memenuhi sebagian besar Padang Arafah sehingga selain merindangkan padang itu, juga untuk menghijaukan Arafah.
Dengan tinggi rata-rata dua hingga tiga meter, pohon ini berdiri di sepanjang jalan-jalan utama Padang Arafah.
Pohon dengan banyak manfaat ini juga tumbuh di lokasi-lokasi yang akan ditempati tenda-tenda jamaah haji dari seluruh dunia untuk melaksanakan prosesi wukuf.
“Keberadaan pohon-pohon ini sangat membantu menguranggi suhu panas saat jamaah haji melaksanakan wukuf,” ujar Kepala Satuan Operasional (Kasatop) Arofah, Muzdalifa, dan Mina (Armina) Abu Haris Muntohar.
Abu Haris mengungkapkan Pemerintah Arab Saudi memang secara khusus memelihara keberadaan pohon soekarno ini.
“Bahkan di Arafah ada saluran air khusus yang ditanam dalam tanah untuk menyirami setiap batang pohon Soekarno,” katanya.
Pohon Tangguh
Keberadaan Pohon Soekarno di Arafah memang diakui sejumlah orang yang berkunjung maupun sedang bekerja di lokasi itu merasakannya manfaatnya.
Menjelang puncak haji biasanya banyak pekerja yang datang ke Arafah untuk mempersiapkan berbagai keperluan jamaah atau hanya sekedar membersihkan ilalang yang tumbuh sumbur di lokasi yang bakal ditempat jamaah saat wukuf.
“Adanya pohon ini memang membuat lokasi ini memiliki tempat berteduh saat saya dan beberapa pekerja mengerjalan persiapan untuk kedatangan haji,” kata Ahmad seorang pekerja dari Pakistan.
Dirinya yang sudah 10 tahun bekerja di Arab Saudi dan seringkali mendapat tugas bekerja di Arafah juga menyatakan keheranannya pohon tersebut tidak pernah mati walaupun disinari terik matahari yang luar biasa panasnya.
Diakuinya, sekalipun pohon itu mendapat perawatan seperti dengan disiram air tapi ketangguhan pohon itu tidak mati karena panas, membuat banyak orang yang kagum dengan ketangguhan pohon itu.
“Pohonnya kuat dari serangan terik matahari sekalipun tidak terlalu sering disiram air,” katanya.
Pastinya jamaah Indonesia bisa berbangga diri dengan adanya pohon Soekarno yang banyakdikenal oleh penduduk Arab Saudi itu.
Di Indonesia sendiri kedua tanaman itu memiliki beberapa fungsi. Tanaman yang digunakan untuk penghijauan lahan kritis itu juga dimanfaatkan kayunya sebagai bahan bangunan dan kayu bakar.
Daunnya bermanfaat untuk bahan baku pestisida organik dan sebagai obat bagi kesehatan.
Fermentasi dari daun Mimba dan urin kambing/kelinci yang dipercepat dengan dekom-poser-bio efektif dapat digunakan untuk pengendalian hama kutu daun pada cabe, tomat, serta kacang panjang.(ahmad wijaya)

Pohon Sukarno” di Arafah


Padang Arafah… sebuah areal yang sakral dalam ritual haji. Tidak sah ibadah haji, tanpa melakukan wukuf (berdiam diri) di padang Arafah. Tak heran, jika pada tanggal 9 Dzulhijah, di antara waktu tergelincirnya matahari (ba’da dhuhur) hingga terbenamnya matahari, semua jemaah haji, tanpa kecuali, harus menjalani wukuf di Arafah.
Yang sehat, yang sekarat… yang gagah, yang jalan dipapah… harus berdiam di Arafah. Sekalipun untuk itu, si sakit harus tetap di pembaringan dengan berbagai selang infus dan alat-alat bantu medis lainnya. Alhasil, berbondong-bondonglah jutaan jemaah haji menuju padang Arafah.
Lokasi padang Arah, kurang lebih sekitar 26 km sebelah tenggara kota Mekah. “Kehidupan” di Arafah hanya tampak pada tanggal 9 Dzulhijah. Selebihnya, Arafah adalah daerah tak berpenghuni. Di luar waktu wukuf, Arafah tidak lagi menjadi daerah sakral dan mustajab. Sebaliknya, pada waktu wukuf itulah Arafah menjadi daerah yang begitu sakral.
Menggambarkan suasana wukuf di Arafah, bisa sangat panjang. Karenanya, mari kita ambil haluan semula, menyoal adanya “Pohon Sukarno” di sana. “Pohon Sukarno” di Padang Arafah. Dinamakan pohon Sukarno, semata sebagai penghargaan bangsa Arab kepada Presiden Republik Indonesia yang pertama, Sukarno.
Sukarno-lah yang menggagas penghijauan di Padang Arafah. Konon, Sukarno pula yang memilihkan jenis tanaman, hingga menyiapkan sebuah tim penghijauan Arafah. Gagasan Sukarno berhasil. Padang tandus dengan permukaan batu cadas nan gersang, berhasil dihijaukan oleh Sukarno. Raja Fahd (ketika itu), sangat berterima kasih, dan mengabadikan nama “Pohon Sukarno” untuk poho-pohon yang sekarang menghijaukan areal Arafah seluas kurang lebih 5,5 km X 3,5 km atau setara 19,25 km persegi.
Hingga kini, orang masih banyak yang bertanya-tanya ihwal jenis pohon yang dinamakan “Pohon Sukarno” itu. Ada sejumlah nama yang acap diucap orang. Di Indonesia, jenis pohon yang ditanam di Arafah itu dinamakan pohon imba. Selain daunnya berkhasiat untuk mengobati diare, lebih dari itu jenis pohon ini sangat tahan hidup di daerah tandus, bahkan dalam suhu udara yang panas ekstrim.
Sumber lain menyebut nama pohon mindi sebagai “pohon Sukarno” di Arafah. Jenis pohon mindi ini bisa hidup di tanah berpasir, tandus, gersang… dan sangat tahan meski kekurangan air. Daunnya diyakini berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Sekalipun begitu, dahan dan rantingnya sangat mudah patah. Sangat mungkin, pohon imba dan pohon mindi itu sama. Setidaknya, berasal dari rumpun pepohonan yang sejenis.
Yang pasti, dengan gagasan penghijauan Arafah, kini areal itu menjadi ijo royo-royo. Dipotret dari udara, tampak petak-petak hijau dengan aneka bentuk tenda perkemahan jemaah haji, disekat jalur jalan beraspal mulus.
Hal lain, Padang Arafah ini juga diibaratkan rahim ibu. Artinya, luas arealnya tidak pernah bertambah luas, tetapi tatap mampu menampung berapa pun jumlah jemaah. Jika luas Arafah hanya ideal dihuni tak lebih dari 2 juta jiwa, faktanya pada musim haji, penghuni Padang Arafah bisa mencapai 3,5 – 4 juta.
Laksana rahim sang ibu, yang mampu mengandung satu janin, atau beberapa janin sekaligus, maka seperti itu pulalah Padang Arafah. Ia cukup bagi 2 juta jemaah haji… dan tetap cukup meski berisi  4 juta jemaah haji. Arafah juga sebuah miniatur Padang Mahsyar atau yang juga disebut yawm al Mahsyar (Hari Kebangkitan). Dan Sukarno telah menghijaukan areal yang begitu sakral bagi seluruh umat muslim di atas bumi, sehingga namanya pun diabadikan di sana. (roso daras)

ARAFAH SEBAGAI POTRET MINI PADANG MAHSYAR

Posting : H. Sobarul Hakim, S.Pd.I
Arafah adalah padang pasir yang terletak sekitar 25 km sebelah timur kota Mekah. Berbentk hamparan pasir dan batu yang luas dan tidak berpenghuni, dikelilingi bukit-bukit batu yang berbentuk setengah lingkaran. Setiap musim haji menjelang tanggal 9 Dzulhijjah Arafah didatangi umat Islam dari seluruh dunia untuk melakukan wuquf. Jemaah haji melakukan wuquf terhitung sejak tergelincir matahari tanggal 9 Dzulhijjah sampai dengan terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah.
Wuquf adalah mengasingkan diri atau mengantarkan diri ke suatu panggung replica Padang Mahsyar. Suatu tamsil bagaimana kelak manusia dikumpulkan di Padang mahsyar dalam formasi antri menunggu giliran untuk dihisab oleh Allah SWT. Wuquf adalah suatu contoh sebagai suatu peringatan kepada manusia tentang kebenaran Ilahi.
Wuquf juga merupakan puncak ibadah haji yang harus dilaksanakan di Padang Arafah dan harus tanggal 9 Dzulhijah. Rasulullah SAW mengatakan, ‘Haji itu hadir di Arafah. Barangsiapa yang dating pada malam tanggal 10 Dzulhijah sebelum terbit fajar, sesungguhnya ia masih mendapatkan haji’ (HR 5 orang ahli hadits).
Pada waktu wuquf itu kita menyiapkan diri untuk beribadah, sholat, zikir, berdoa. Kita perlu melakukan renungan, introspeksi, menimbang atau menghisab sendiri berapa berat pahala dan berapa pula berat dosa yang telah kita lakukan selama ini. Kita perlu minta ampun dan memanjatkan doa kepada Allah SWT, karena doa orang yang sedang berwuquf akan dikabulkan oleh Allah SWT.
Padang Arafah luasnya sekitar 3,5 x 3,5 km2. Untuk kenyamanan beribadah, oleh pemerintah Arab Saudi areal ini sudah dilengkapi dengan infra struktur canggih dengan jalan lebar beraspal dan ditumbuhi pohon-pohon rindang. Di bagian tengah lokasi ini terdapat tiang-tiang air setinggi tiang listrik yang di puncaknya terdapat spuyer-spuyer kecil yang dapat menyemburkan uap air halus. Setiap tahun ketika jemaah haji sedang wuquf tiang-tiang air itu dihidupkan. Kawasan yang disemprot uap air itu menjadi sejuk dan nyaman sehingga risiko jemaah terkena heat stroke (sengatan matahari) dapat dikurangi.
Wuquf di Arafah merupakan saat-saat haji yang paling penting. Kita perlu memperhatikan berbagai persiapan dan tertib wuquf :
a. Berdoa sebanyak-banyaknya karena Arafah dijanjikan sebagai tempat yang mustajab untuk berdoa.
b. Jangan membunuh binatang dan jangan pula berkata porno dan jorok.
c. Memperbanyak zikir dan doa kepada Allah SWT.
d. Meminta ampun kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang telah diperbuat.
e. Meminta sebanyak-banyaknya, karena selain Dia Maha Kaya, juga karena kedatangan kita adalah atas kehendak dan panggilan-Nya.
f. Masalah air sering menjadi persoalan besar, karena air yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah jemaah yang dating pada saat yang bersamaan. Kita perlu menyiapkan air dalam kemasan. Gunanya adalah apabila terjadi krisis air bisa digunakan untuk berwudhu.
g. Jemaah akan memperoleh makan dan buah-buahan secara gratis seperti apel, semangka, jeruk, sunkis, kurma dan sebagainya.
h. Menjaga kesehatan dengan memperhatikan makan, minum dan memakan vitamin untuk menambah tenaga.
i. Menjaga suasana wuquf agar selalu hening dan khusyu’.
Keutamaan Arafah disebutkan dalam hadits Nabi, ‘Doa yang paling afdol adalah doa di hari Arafah’. Dalam riwayat lain Nabi mengatakan, ‘Tidak ada hari yang paling banyak Allah menentukan pembebasan hamba-Nya dari neraka kecuali hari Arafah’.
Di padang pasir ini terdapat sebuah bukit batu yang bernama Jabal Rahmah. Di atas bukit batu ini terdapat tugu putih yang dibangun untuk mengenang peristiwa sangat penting bagi umat manusia, yaitu pertemuan yang sangat mengharukan antara kedua nenek moyang manusia, Nabi Adam dan Siti Hawa setelah turun daru surga dan dipisahkan oleh Allah SWT selama 200 tahun.
Peristiwa pertemuan kedua nenek moyang manusia ini diabadikan setiap tahun oleh Nabi Adam sendiri dan diteruskan oleh keturunannya sampai sekarang. Di sini pula tempat turun wahyu Allah SWT yang terakhir kepada Nabi Muhammad SAW yang tercantum dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 3 yang artinya, ‘Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu’.

NEX!!!

Sa'i Berjalan yang di mulai dari bukit Marwah atau sebaliknya sevabyak 7 kali perjalanan yang berakhir di bukit Marwah. Perjalanan dari bukit safa ke marwah dihitung satu kali. Lari-lari kecil sunatt dilakukan bagi laki-laki mulai dari pilar hiaju sampai pilar hijau berikutnya. Bagi wanita tidak disunatkan berlari-lari kecil, cukup berjalan biasa. orang yang melakukan sa'i boleh dalam hadas besar.
Shalat Jum'at di Arafah, Muzdalifah dan Mina apabila hari wukuf jatuh pada hari jum'at para pakar islam menyatakan jamaah haji tidak diwajikan melaksanakan shalat jum'at. Demikian pula di Muzdalifah dan Mina.
Shofa bukit yang pada saat ini berada di dalam Masjidil Haram yang dijadikan tempat untuk memulai Sa'i dan termasuk tempat mustajab
Tahallul Keadaan seseorang yang telah dihalalkan (dibolehkan) melakukan perbuatan yang sebelumnya dilarang selama berihram. Tahallul ada 2 macam :
a. Tahallul Awal ialah keadaan seseorang yang telah melakukan dua diantara tiga perbuatan : misalnya melontar Jumroh Aqobah dan bercukur atau Jumroh Aqobah dan Tawaf Ifadah serta Sa'i atau Tawaf Ifadah dan Sa'i serta bercukur. Sesudah Tahallul awal seseorang boleh ganti pakaian biasa dan memakai wangi-wangian dan boleh mengerjakan semua yang dilarang selama berihram, akan tetapi masih dilarang bersetubuh dengan istri/suami.
b. Tahallul Tsani ialah keadaan seseorang yang telah melakukan ketiga perbuatan : melempar Jumroh Aqobah, bercukur dan Tawaf Ifadah serta Sa'i. Bagi yang Tawaf Qudum disertai Sa'i maka tidak perlu melakukan Sa'i lagi setelah Tawaf Ifadah. Sesudah Tahallul Tsani seseorang boleh bersetubuh dengan istri/suami.
Tawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali. (Ka'bah berada di sebelah kiri) di mulai dari arah sejajar Hajar Aswad. Orang yang melakukan tawaf harus dalam keadaan suci dari hadas besar, kecil dan najis.
Macam-macam tawaf sebagai berikut:
a. Tawaf Qudum ialah tawaf sunat sebagai penghormatan pada Baitullah(tahiyat), bagi orang yang melaksanakan haji ifrad atau haji qiran, sedangkan bagi haji tamattu' ketika pertama kali memasuki kota Mekkah langsung melakukan tawaf umrah. Tawaf umrah adalah rukun umrah, orang yang telah melakukan tawaf umrah berarti dia telah melakukan tawaf qudum karena didalamnya telah mencakup makna tawaf qudum.
b. Tawaf Ifadah ialah tawaf rukun haji apabila di tinggalkan tidak sah hajinya. adapun waktunya sesudah Wukuf di Arafah sedangkan awal waktunya setelah lewat tengah malam tanggal 10 Julhijah.
c. Tawaf Wada ialah tawaf pamitan yang wajib dilakukan seseorang yang akan meninggalkan kota Mekkah dan Tawaf Wada tersebut tidak disertai dengan sa'i.
d. Tawaf Sunat ialah tawaf yang dilakukan setiap masuk masjidil Haram tanpa pakaian ihram dan bukan dalam rangka haji.
Tayamum bersuci dari hadas kecil maupun besar dengan menggunakan debu yang suci. Tayamum diperbolehkan dalam keadaan ketidakadaan atau kekurangan air ketika seseorang berada dalam bus, kereta api atau pesawat terbang.
Udzur Syar'i Sesuatu yang menyebabkan seseorang menurut hukum diperbolehkan tidak melaksanakan sesuatu yang seharusnya dilakukan atau dibolehkan melaksanakan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.
Wajib Haji Rangkaian amal yang harus dilakukan dalam ibadah haji, bila tidak di kerjakan atau di tinggalkan hajinya sah tapi dikenakan Dam.
Wukuf Berdiam diri sejenak di Arafah pada waktu tergelincirnya matahari tanggal 9 Zulhijah, wukuf di awali khutbah, shalat Dzuhur dan Ashar dijama' taqdim dan qasar sebaiknya berjamaah, kemudian diisi dengan kegiatan membaca doa, berzikir, membaca Al-Quran, tasbih dan istigfar.
Ziarah Ziarah tidak termasuk rangkaian ibah haji, tetapi untuk memenuhi anjuran nabi Muhammad SAW.
a) Tujuan ziarah, ziarah merupakan amalan yang bertujuan melihat dari dekat tempat-tempat bersejarah dan untuk menyaksikan secara nyata tempat-tempat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan agama Islam agar dapat memperoleh iman. Ziarah ke tempat bersejarah baik di Mekkah, Madinah maupun tempat lain tidak termasuk rangkaian ibadah haji.
b) Hukum ziarah, hukum asal berziarah ketempat bersejarah adalah mubah. Bila dilaksanakan dengan niat baik untuk menambah iman dan keyakinan terhadap kebesaran ajaran Islam hukumnya menjadi sunah. Tetapi apabila dilaksanakan dengan cara berlebihan misalnya dengan cara mengeramatkan tempat-tempat tersebut sehingga menimbulkan kemusyrikan, maka hukumnya menjadi haram.

NEX!!!

Masjid Jin terletak di dekat Ma'la. Dinamakan Masjid Jin, karena para Jin bersepakat (berbai'at) mengakui Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah dan disitu pula tempat turunnya wahyu (surat Jin). Masjid Jin ada kaitannya dengan asbabul nuzul surat Jin.
Masjid Nawirah letaknya di sebelah barat Padang Arafah, menuruh hikayat disinilah Rasulullah SAW menyampaikan pidato Wada' (perpisahan) kepada umat Islam yang menunaikan ibadah haji bersama beliau pada tahun itu.
Masjid Qiblatain Masjid ini Sebelumnya dinamai Masjid Bani Salamah, letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat istana raja ke jurusan Wadi Aqiq. Pada awalnya, qiblat menghadap ke arah Baitul Maqdis di Jerusalem/Palestina, kemudian turunlah wahyu agar memindahkan qiblat dari arah semula ke arah Masjidil Haram. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka akhirnya masjid ini diberi nama Masjid Qiblatain yang berarti Masjid berqiblat dua yaitu ke arah Jerusalem/Palestina dan ke arah Masjidil Haram.
Masjid Quba Sebuah Masjid yang terletak di Quba, terletak kira-kira 5 km sebelah barat daya Madinah. Waktu Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, orang-orang pertama yang menyongsong kedatangan Rasulullah SAW adalah penduduk Quba. Karena orang-orang Quba dan Madinah belum mengenal Nabi, maka tatkala Nabi bersama pengiring tunggalnya yaitu Abu Bakar Ashiddiq datang berpakaian yang sama-sama putih, mereka ragu-ragu mana yang Nabi. Hal itu menarik perhatian Abu Bakar. Untuk menghilangkan keragu-raguan mereka, maka Abu Bakar memegang selendang dan dilindungkan ke atas kepala Nabi Muhammad SAW.
Miqat a. Miqat Zamani
Ketentuan batas waktu untuk mengerjakan haji, yaitu tanggal 1 Syawal sampai terbit fajar tanggal 10 Zulhijah.
b. Miqat Makani
Ketentuan batas tempat untuk memulai Ihram haji/umrah.
Multazam tempat yang letaknya diantara Hajar Aswad dengan pintu Ka'bah. Disebut Multazam karena orang-orang yang berada di tempat itu berdo'a memohon Allah dan memastikan bahwa do'anya dikabulkan oleh Allah SWT.
Nafar Menurut bahasa artinya rombongan. Sedangkan menurut istilah adalah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina pada hari-hari Tasyrik. Nafar terbagi dua bagian :
a. Nafar Awal : adalah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina lebih awal, paling lambat sebelum terbenam matahari tanggal 12 Zulhijah.
b. Nafar Tsani (Nafar Akhir) : adalah kenerangkatan jamaah haji meninggalkan Mina pada tanggal 13 Zulhijah setelah melontar Jumroh Ula, Wustha dan Aqobah.
Ra'ml Lari-lari kecil antara dua pilar hijau hanya disunatkan bagi laki-laki yang mampu melaksanakannya, sedangkan bagi wanita tidak disunatkan lari-lari kecil
Raudhah Suatu tempat di dalam Masjid Nabawi yang letaknya ditandai dengan tiang-tiang putih, berada diantara Rumah Nabi (sekarang Makam Rasulullah SAW) sampai mimbar. Adapun luas Raudhah dari arah timur ke barat sepanjang 22 meter dan dari utara ke selatan 2 meter. Raudhah adalah tempat yang mustajab untuk berdo'a.
Rukun Haji rangkaian amal yang harus dilakukan dalam ibadah haji dan tidak dapat diganti dengan Dam (denda) jika di tinggalkan tidak sah hajinya.

  NEX!!!

Kiswah Kain hitam yang membungkus atau membalut Ka'bah. Menurut riwayat, Kiswah ini ada sejak zaman Nabi Ismail, kemudian di ikuti secara turun temurun oleh kaum Quraisy yang menjadi penjaga Ka'bah dan dilanjutkan sampai sekarang. Kiswah dibuat dari bahan sutera asli yang alami disulam dengan berbagai kaligrafi ayat-ayat Al-Quran berwarna emas. Adapun Kiswah khusus untuk pintu Ka'bah dinamakan dengan A-barqa. Setiap tahun, Kiswah ini diganti oleh Kerajaan Arab Saudi dengan upacara khusus sebelum wukuf.
Lailatul Jam'in Yaitu malam tanggal 10 Zulhijah, dinamakan demikian pada malam itu keharusan Wukuf dan kewajiban Mabit di Muzdalifah berlaku.
Lontar Jumroh Melontar dengan batu kerikil pada jumroh (marma) Ula, Wusta, Aqabah. Pada tanggal 10 Zulhijah yang dilontar hanya Jumroh Aqobah saja dengan 7 kerikil. Pada tanggal 11, 12 dah 13 Zulhijah melontar ketiga Jumroh masing-masing dengan 7 batu kerikil dan harus masuk ke dalam lubang Marwa. Jika lontaran mengenai tugunya dan kerikil melesat melewati bibir sumur, maka lontaran dianggap tidak sah dah jawib diulang.
Ma'la Tanah kuburan bagi penduduk Makkah sejak jaman dahulu kala sampai sekarang. Jemaah haji dari seluruh dunia yang meninggal di Makkah biasanya dimakamkan di Ma'la yang letaknya tidak jauh dari Masjidil Haram arab sebelah timur.
Mabit di Mina Keadaan jamaah haji di Mina di malam hari untuk tidur/beristirahat pada hari-hari tasyik. Ketentuan Mabit di Mina adalah keberadaan jamaah haji di Mina lebih dari separuh malam.
Mabit di Muzdalifah Bermalam atau berhenti sejenak di muzdalifah dengan berdoa atau berzikir sampai melewati tengah malam pada tanggal 10 Zulhijah. Bagi yang datang di muzdalifah sebelum tengah malam, maka harus menunggu sampai tengah malam. Mabit bisa berhenti sejenak dalam kendaraan atau turun dari kendaraan pada saat itu bisa dimanfaatkan untuk mencari kerikil disekitar tempat kendaraan untuk melempar jumrah di Mina.
Makam Baqi Tanah kuburan untuk penduduk Madinah sejak zaman jahiliyah sampai sekarang. Jemaah haji yang meninggal di Madinah dimakamkan di Baqi yang letaknya di sebelah timur dari Masjid Nabawi. Disini di makamkan Usman Bin Affan RA (Khalifah III) dan para istri Nabi, yaitu Siti Aisyah RA, Umi Salamah, Juwariyah, Zainab, Hafshah binti Umar Bin Khattab dan Mariyah Al Qibtiyah RA. Juga di Baqi ini dimakamkan putra-putri Rasulullah SAW, diantaranya Ibrahim, Siti Fatimah, Zainab dan Ummu Kulsum. Demikian pula Ruqayyah Halimatus Sa'diyah ibu yang menyusui Rasulullah SAW. Sahabat yang pertama kali dimakamkan di Baqi adalah Abu Umamah, Hasan bin Zararah dari kaum Anshar dan Usman bin Maz'un dari holongan Muhajirin.
Makam Hawa adalah tanah kuburan bagi penduduk Jeddah sejak zaman dahulu sampai sekarang. Menurut salah satu riwayat di pemakaman inilah Siti Hawa di makamkan.
Maqam Ibrahim batu yang terdapat bekas telapak kaki Nabi Ibrahim ketika membangun Ka'bah. Bekas kedua telapak kaki itu dalamnya 10 cm, batu tersebut berukuran panjang 27 cm, lebar 14 cm, jarak antara telapak kaki kanan dengan kiri 1 cm. Diatas batu tersebut, Nabi Ibrahim berdiri dan menjadikannya sebagai tangga untuk membangun Ka'bah. Saat ini Maqam Ibrahim telah disapu perak, tetapi bekas telapak masih terlihat dengan jelas. Letaknya kurang lebih 8 meter dari Ka'bah. Pada masa Raja Faishal, Maqam Ibrahim dikelilingi dengan bangunan kecil beratap yang dikurung dengan marmer seluas 130 x 180 cm dengan ketinggian 75 cm. Bagi kaum muslimin disyariatkan untuk shalat di Maqam Ibrahim.
Marwah bukit yang saat ini berada dalam Masjidil Haram yang dijadikan tempat untuk mengakhiri Sa'i dan termasuk tempat mustajab.